Saturday, 7 May 2016

THE SECRET OF ME PART 1


PART 1
L Septa Raditya Pratama. Orang yang aku sayangi selama empat tahun terakhir ini. Orang yang benar benar aku sayangi. Aku sangat mengagumi dirinya. Tetapi, dia tidak tahu bahwa dia mempunyai pengagum rahasia. Aku. Akulah sang pengagum rahasia itu. L
Entah apa yang ada di pikiranku saat ini. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Sakit? Enggak juga. Menyesal? Sedikit. Kangen? Iya. Ini yang ke dua kalinya aku menyukai seseorang dalam kebodohan. Iya, bodoh. Aku menyukai seseorang selama empat tahun dan aku-pun tahu bahwa dia tidak menyukaiku. Tetapi mengapa aku masih mengharapkannya? Seseorang yang bukan kriteria idaman ku. Yang aku tahu setinggi apapun kriteria pasangan hidupmu bakal kalah sama yang namanya cinta tanpa alasan. Aku ingin dengan sabar tetap menyukainya tetapi setelah aku mengingat semua kejadian yang aku alami. Aku rasakan. Aku ingin menyudahi perasaan ini. Semua itu butuh waktu yang tidak sebentar. Seperti apa perasaanku padanya, aku sendiri juga tidak tahu. Apakah aku benar-benar menyayanginya atau sekedar mengaguminya saja. Aku menyukainya dalam diam. Dalam keheningan batinku yang tersiksa. Apapun yang aku rasakan saat ini, aku ingin berhenti menyayanginya. Aku ingin berhenti mengharapkannya. Aku ingin berhenti memikirkannya. Aku ingin berhenti menyukainya. Aku ingin berhenti mengkhawatirkannya. Dia juga sudah memblokir ID-ku. Mungkin dia menghindar dariku. Atau, bisa saja dia ilfeel denganku. Entahlah!! Aku tidak tahu.
Butuh waktu yang tidak sebentar untuk melupakan Septa. Butuh perjuangan yang keras. Aku harus bisa melupakannya meski dia adalah temanku. Dia pun juga sudah memblokir ID-ku. Buat apa dipertahankan? Mungkin dia menghindar. Iya, menghindar.
Cinta itu memang membingungkan. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku padanya yang sebenarnya. Suka sama sayang apakah beda? Ada salah satu temanku bilang bahwa masih mending orang yang kamu sukai pergi meninggalkanmu. Orang yang kamu sukai. Bukan Orang yang kamu sayangi kan? Aku masih berharap dia menghubungi aku lagi. Meskipun hanay sebagai teman.
Tentunya aku masih merahasiakan perasaanku padanya. Pada seseorang yang empat tahun ini aku sukai. Selama empat tahun, dia berpacaran, disukai banyak wanita, menyukai beberapa wanita. Sedangkan aku. Aku disini, masih sendiri. Bukan berarti nggak laku tapi aku nggak bisa berpaling untuk pria lain. Entah kenapa aku sebodoh ini. Melihatnya berpegangan tangan dan makan bareng dengan cewek. Rasanya biasa saja and I ain’t care tapi di hati ini sakit. Nggak sakit sebenarnya. Bukan. Tapi aku merasakan sakit yang teramat dalam. Tetapi aku cuek. Cuek, iya karena aku nggak mau sakit hati. Lupakan. Mungkin memang aku nggak bisa bersamanya. Nggak akan pernah bisa bersamanya. Tidak akan pernah.
Akankah aku bisa bersamanya suatu saat nanti? tidak akan pernah. Mungkin bisa. Iya. Tidak ada yang pernah tahu rahasia tuhan, bukan! Aku ingin satu hari menghabiskan waktu bersamanya. Bercerita tentang apapun dengannya. Bukan tentang sebuah perasaan yang aku punya. Aku ingin menatapnya. Menghirup wangi aroma parfumnya. Memegang tangannya. Menatap lekat matanya. Aku ingin dia mengetahui bahwa aku menyukainya. Mengetahui bahwa aku menyayanginya. Apakah aku bisa mengatakan padanya? Apakah dia sudah mengetahui sejak lama aku menyukainya? Mungkin. Iya, mungkin. Terkadang lelaki itu mengetahui ada wanita yang menyukainya. Wanita, ketika menyukai seseorang bisa terlihat oleh lelaki. Lebih menyakitkan lagi kalau sang lelaki tidak peka terhadap itu. Peka. Iya, peka. Itu sebuah pertanyaan ku. Peka. Apakah dia peka atau tidak? Atau mungkin dia peka tetapi nggak tahu harus berbuat apa, ngomong apa pada wanita itu. Pecundang!! Bukan pecundang, tetapi ada wanita yang telah mengisi hatinya dan tidak ingin melukai hati wanitanya. Di lain sisi juga, dia tidak mau di bilang ge-er atau PD kalau wanita itu menyukainya dan dia terlalu responsive. Yes, I know. Sebagian besar dari semua pertanyaanku, aku sudah tahu jawabannya. Tetapi begitu bodohnya aku, aku masih saja mengharapkannya. Bodoh. Sangat bodoh.

L L L L
“Yang bisa ngejar gue itu cuma orang yang expert”
Jleeebb!!! Entah dia bilang seperti itu benar dari dalam lubuk hatinya atau cuma asal. Hatiku merasakan sakit membaca pesan itu. Entah kenapa. Bukan sekedar sakit. Sakit banget. Air mataku sudah keluar membanjiri seisi ruang toko. Saat ini aku sedang di toko buku dan masih sempat juga chat dengan dia.
Paraaah banget. Iya, entah apa yang aku rasakan. Yang jelas aku merasakan sakit. Aku duduk di kursi sambil menatap rak buku di toko. Sebegitukah rasanya sakit? Padahal dalam pesan itu, secara normal nggak akan melukai orang yang membacanya. Tapi itu melukai ku. Iya, sangat melukaiku.
Sedari dulu, aku menyukainya. Tapi tidak pernah terungkapkan. Memendam perasaan padanya itu ternyata menyesakkan. Bahkan dalam obrolan yang sebenarnya hanya bercanda itu bisa melukaiku. Sulit bagiku untuk menutupi apa yang aku rasakan saat itu. Saat ada kata-katanya yang melukaiku. Sulit memang. Hal terbaik yang aku lakukan adalah, cepat-cepat pergi meninggalkannya dan menangis sepuasnya. Aku memang cengeng. Tetapi pura pura sok kuat. Iya. Dia sering nanya ke aku tentang cewek. Padahal pertanyaan itu sangat melukaiku.
“Ini cewek menurut lo gimana? Cantik gak? Dia udah bilang kalau dia suka sama gue”
 woeee!! Lo tau nggak sih yang lo ajak curhat itu siapa? ORANG YANG JUGA SAMA SAMA SUKA SAMA LO tapi bedanya gue nggak berani ngungkapin apa yang gue rasa.
Aku rasa ini hati sudah meledak layaknya gunung meletus. Ini akabitnya kalo punya perasaan pada orang dan dipendam. Ini akibatnya. Sakit yang selalu di dapat. Nyesek tiap harinya. Pernah kepikiran untuk ngungkapin perasaanku padanya. Takut. Tapi aku takut. Takut dibilang norak. Akupun sudah tahu bakal bagaimana reaksi dari dia. Dia pasti tertawa dan bakal bilang KOK BISA?
Aku terlalu takut untuk ngungkapin perasaanku padanya. Aku nggak seberani cewek-cewek supeer yang suka padanya itu. Aku jelek, udik, nggak punya temen, pendiem, nggak bisa bersosialisasi, bodoh, ingusan, norak dan nggak stylish. Aku nggak ada apa-apanya dibanding cewek-cewek supeer yang suka padanya. Mereka stylish, cantik, seksi, pintar dan tentunya punya banyak temen. Ngomongin nggak punya temen. Iya, aku ingat kata kata dia. Dia pernah bilang kalau aku nggak punya temen. Temenku hanya itu-itu aja. Cuma sedikit. Nggak bisa berbaur. Haa haa haa haa sakit woiiii sakit woiii. Tapi emang iya sih. Enggak juga kok. Kamunya aja yang nggak tahu. Aku bisa berbaur kok. Aku punya banyak temen kok. Cuma aja temen-temenku sudah pada nikah. Punya anak. Keluarga. So, mereka ngurusin keluarganya. Jarang ada waktu buat ketemu. Tapi kita masih berhubungan dengan baik. Toh buat apa punya banyak temen kalo cuma fake apalagi bisanya menusuk dari belakang. Nggak perlu punya temen banyak, sedikit saja yang penting bisa mengerti dan menerima kita apa adanya. Itu yang aku harapkan. Nggak salah juga punya banyak temen, buat nambah relasi hidup aja.

L L L L
”Lo berharap gue suka sama lo kan.“ Waaaaaaaaaahhh gila. Ya iyalah. Sudah gila apa aku nggak ngarep gitu, kan aku suka sama kamu. JJJJJ
Dengan innocentnya dia bilang seperti itu. Itu tentang sebuah status yang dia buat dan aku mengomentarinya.. Aku hanya mengomentari sewajarnya saja dan dia bilang seperti itu. Sumpah, nerveous banget nggak tahu harus bales gimana, rasanya tuh bad mood banget. Bad mood. Iya, kelihatannya dia itu merendahkanku seakan aku itu nggak pantes menyukainya bahkan bisa bersamanya. Sakit lagi hatiku. Bodoh amat aku bales
”Ge-er banget sih. Gue suka sama lo? Enggaklah, lo itu bukan tipe gue. Gak tertarik gue sama lo. Hahaha JJJ.“ Balesku. Sebenarnya aku sudah menangis saat mengetik kalimat itu. Aku terlalu cengeng.
Pembodohan lagi, lagi dan lagi. Pembohongan pada hati. BOHONG. BOHONG. BOHONG. BOHONG. BOHONG.
Apa sih yang membuatku takut untuk ngungkapin perasaanku?? Aku takut. Aku malu. Karena apa, aku merasa nggak pantes. Aku tahu tipe wanita idealnya. Aku nggak cantik, pinter, aku juga nggak stylish, aku juga nggak bisa berbaur. Dan aku-pun juga tahu kalau aku bukanlah tipe idealnya dia. Buat apa juga aku ngungkapin perasaanku padanya. Nggak bakal ada efek apa-apa. Tetapi, bodohnya, aku masih tetpa menyukainya. Aku masih menyayanginya.
I’ll starting forget you. I don’t care if we’re friend. No, we are not friend. We never talked. We just strange friend and can’t be friends. We can’t break the ice.
Nangis itu cara terakhir ketika nggak bisa mengungkapakan dengan kata-kata. Kadang kita hanya ingin menangis, sendiri ditempat yg sejuk di sebuah padang rumput dan menceritakan semuanya kepada angin yang semilir menyegarkan jiwa. Aku menginginkan itu saat ini. Berpura pura “I am fine” pada semua orang itu susah. Berpura pura tersenyum pada semua orang, pada suatu hal yang lucu padahal otak dan hati tertuju pada satu orang. Satu masalah. Nggak gampang melakukan itu. You must be strong human.
Aku ingin dia melihatku. Aku ingin dia dekat denganku. Aku ingin dia memperhatikanku. Aku ingin dia tahu bahwa aku menyukainya. Aku ingin dia bersikap dewasa. Itu saja. Tapi sayang, semua hal yang aku harapkan itu hanya sebuah pengharapan yang tidak mungkin terwujud. Amat sangat tidak mungkin sekali terwujud. Aku tahu dia seperti apa. LL
Menyakitkan itu adalah ketika muncul rasa rindu pada Septa. Aku ingin menghentikan itu tapi I can’t stop that feeling. Rasa itu datang tidak diundang dan pergi tanpa disuruh pergi. Layaknya jaelangkung!!@#
Saat ini, aku ingin mendapatkan satu lelaki yang benar-benar menyayangiku, menyukaiku apa adanya diriku ini dan yang terpenting. Aku juga menyayanginya dan menyukainya. Aku lelah sendiri. Aku ingin merasakan punya pacar. Pergi keluar at Saturday night. Hang out bareng pacar. Aku ingin merasakan itu. Dilihat dari segi umur aku sudah terlalu tua untuk tetap menjomblo. Bukan tidak mau membuka hati. Ada yang mendekati tapi aku nggak ada feeling sama mereka. Bukan terlalu fokus sama seseorang yang aku sukai tapi memang belum ada yang cocok. Belum ada yang nyaman. Banyak orang yang bilang kalau aku itu pemilih. JJ iya mungkin. Tapi enggaklah. Ketika ada yang cocok dan nyaman buat apa ditolak JJJ Septa juga pernah bilang seperti itu kepadaku. Aku nyaman dengannya. Apakah Septa juga nyaman berada di dekatku?
Pernah suatu kali ada yang menembakku. Ssstttt aku nggak mati loh. Ada seseorang yang menyatakan perasaannya tapi aku tolak. Dia juga bilang kalau aku pemilih. Aku hanya melihat dia dari segi fisik saja. Padahal bukan itu alasannya. Aku tidak ada perasaan apa-apa kepadanya. Bisa saja aku menerimanya. Tapi, aku juga nggak mau menyakiti perasaannya.
Enggak. Aku bukan tipe orang seperti itu. Aku bukan makhluk yang melihat lelaki dari segi fisik. Cinta itu tidak bisa ditebak. Tidak ada yang pernah tahu perasaan seseorang. Semua itu berawal dari hati. Kenyamanan.
Aku memang menyukai artis korea seperti Lee Donghae member dari boyband ternama Super Junior. Tapi, bukan berarti tipe lelaki idealku seperti itu. Nggak ada orang yang tipe ideal pasangannya jelek. Tapi kita tidak boleh memilih berdasarakan fisik. Lee Donghae itu artis. Penyanyi. Wajar saja dia tampan. Keren. Cool. Tapi belum tahu kalau di rumah. Kebiasaan di luar jadwal manggung seperti apa. Kita tidak ada yang tahu. Tahu ding ssssttt dari akun sosmed dia. Dia kan sering posting hee hee hee.
 Memangnya siapa diriku ini. Aku sadar diri kok. Aku hanya gadis udik. Jika aku mempunyai pasangan ideal layaknya Lee Donghae. Aku nggak akan pernah menikah sebelum menemukan yang seperti itu. Menikah? Punya cowok aja enggak. Mana aja cowok yang wajahnya seperti Lee Donghae disini. Biarpun ada, dia juga tidak melihatku. Dia juga tidak menyukaiku.
Yang terpenting itu adalah. Kesetiaan dan tanggung jawab. Paling penting lagi adalah ”NYAMAN.” menurutku seperti itu. Aku menemukan itu di dalam diri Septa.
Septa. Contohnya Septa. Aku menyukai Septa yang notabene bukan artis ataupun model. Bahkan dia juga tidak terkenal tapi aku tidak bisa memilikinya. Dia tidak pernah melihatku. Peduli padaku. Apalagi Lee Donghae. Bisa membayangkannya sendiri kan J
Aku masih belum mengerti perasaanku kepada Septa. Hanya satu hal yang aku tahu. Aku merasa nyaman berada di dekatnya.
Hari ini otak dan perasaanku telah terkuras. Aku benar-benar memikirkan kenapa Septa memblokir-ku. Apa mungkin dia benci kepadaku. Apa salahku? Kemarin saja kita masih chat baik-baik. Bercandaan juga. Kenapa dia tiba-tibal memblokirku?

Aku juga memikirkan masa lalu saat aku masih bersama Septa. Saat kita duduk di bangku kuliah. Ada banyak hal yang membuatku geli. Tertawa geli maksudku. 

No comments:

Post a Comment