PART 1
L
Septa Raditya Pratama. Orang yang aku sayangi selama empat tahun terakhir ini.
Orang yang benar benar aku sayangi. Aku sangat mengagumi dirinya. Tetapi, dia
tidak tahu bahwa dia mempunyai pengagum rahasia. Aku. Akulah sang pengagum rahasia
itu. L
Entah
apa yang ada di pikiranku saat ini. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Sakit?
Enggak juga. Menyesal? Sedikit. Kangen? Iya. Ini yang ke dua kalinya aku
menyukai seseorang dalam kebodohan. Iya, bodoh. Aku menyukai seseorang selama
empat tahun dan aku-pun tahu bahwa dia tidak menyukaiku. Tetapi mengapa aku
masih mengharapkannya? Seseorang yang bukan kriteria idaman ku. Yang aku tahu setinggi
apapun kriteria pasangan hidupmu bakal kalah sama yang namanya cinta tanpa
alasan. Aku ingin dengan sabar tetap menyukainya tetapi setelah aku mengingat
semua kejadian yang aku alami. Aku rasakan. Aku ingin menyudahi perasaan ini.
Semua itu butuh waktu yang tidak sebentar. Seperti apa perasaanku padanya, aku
sendiri juga tidak tahu. Apakah aku benar-benar menyayanginya atau sekedar
mengaguminya saja. Aku menyukainya dalam diam. Dalam keheningan batinku yang
tersiksa. Apapun yang aku rasakan saat ini, aku ingin berhenti menyayanginya.
Aku ingin berhenti mengharapkannya. Aku ingin berhenti memikirkannya. Aku ingin
berhenti menyukainya. Aku ingin berhenti mengkhawatirkannya. Dia juga sudah
memblokir ID-ku. Mungkin dia menghindar dariku. Atau, bisa saja dia ilfeel
denganku. Entahlah!! Aku tidak tahu.
Butuh waktu yang tidak sebentar untuk melupakan Septa.
Butuh perjuangan yang keras. Aku harus bisa melupakannya meski dia adalah
temanku. Dia pun juga sudah memblokir ID-ku. Buat apa dipertahankan? Mungkin
dia menghindar. Iya, menghindar.
Cinta itu memang membingungkan. Aku tidak tahu bagaimana
perasaanku padanya yang sebenarnya. Suka sama sayang apakah beda? Ada salah
satu temanku bilang bahwa masih mending orang yang kamu sukai pergi
meninggalkanmu. Orang yang kamu sukai. Bukan Orang yang kamu sayangi kan? Aku
masih berharap dia menghubungi aku lagi. Meskipun hanay sebagai teman.
Tentunya aku masih merahasiakan perasaanku padanya. Pada
seseorang yang empat tahun ini aku sukai. Selama empat tahun, dia berpacaran,
disukai banyak wanita, menyukai beberapa wanita. Sedangkan aku. Aku disini,
masih sendiri. Bukan berarti nggak laku tapi aku nggak bisa berpaling untuk
pria lain. Entah kenapa aku sebodoh ini. Melihatnya berpegangan tangan dan
makan bareng dengan cewek. Rasanya biasa saja and I ain’t care tapi di hati ini
sakit. Nggak sakit sebenarnya. Bukan. Tapi aku merasakan sakit yang teramat
dalam. Tetapi aku cuek. Cuek, iya karena aku nggak mau sakit hati. Lupakan.
Mungkin memang aku nggak bisa bersamanya. Nggak akan pernah bisa bersamanya. Tidak
akan pernah.
Akankah aku bisa bersamanya suatu saat nanti? tidak akan
pernah. Mungkin bisa. Iya. Tidak ada yang pernah tahu rahasia tuhan, bukan! Aku
ingin satu hari menghabiskan waktu bersamanya. Bercerita tentang apapun
dengannya. Bukan tentang sebuah perasaan yang aku punya. Aku ingin menatapnya.
Menghirup wangi aroma parfumnya. Memegang tangannya. Menatap lekat matanya. Aku
ingin dia mengetahui bahwa aku menyukainya. Mengetahui bahwa aku menyayanginya.
Apakah aku bisa mengatakan padanya? Apakah dia sudah mengetahui sejak lama aku
menyukainya? Mungkin. Iya, mungkin. Terkadang lelaki itu mengetahui ada wanita
yang menyukainya. Wanita, ketika menyukai seseorang bisa terlihat oleh lelaki.
Lebih menyakitkan lagi kalau sang lelaki tidak peka terhadap itu. Peka. Iya,
peka. Itu sebuah pertanyaan ku. Peka. Apakah dia peka atau tidak? Atau mungkin
dia peka tetapi nggak tahu harus berbuat apa, ngomong apa pada wanita itu.
Pecundang!! Bukan pecundang, tetapi ada wanita yang telah mengisi hatinya dan tidak
ingin melukai hati wanitanya. Di lain sisi juga, dia tidak mau di bilang ge-er
atau PD kalau wanita itu menyukainya dan dia terlalu responsive. Yes, I know.
Sebagian besar dari semua pertanyaanku, aku sudah tahu jawabannya. Tetapi
begitu bodohnya aku, aku masih saja mengharapkannya. Bodoh. Sangat bodoh.
L L L L
“Yang bisa ngejar gue itu cuma orang yang expert”
Jleeebb!!! Entah dia bilang seperti itu benar dari dalam
lubuk hatinya atau cuma asal. Hatiku merasakan sakit membaca pesan itu. Entah
kenapa. Bukan sekedar sakit. Sakit banget. Air mataku sudah keluar membanjiri
seisi ruang toko. Saat ini aku sedang di toko buku dan masih sempat juga chat
dengan dia.
Paraaah banget. Iya, entah apa yang aku rasakan. Yang
jelas aku merasakan sakit. Aku duduk di kursi sambil menatap rak buku di toko.
Sebegitukah rasanya sakit? Padahal dalam pesan itu, secara normal nggak akan
melukai orang yang membacanya. Tapi itu melukai ku. Iya, sangat melukaiku.
Sedari dulu, aku menyukainya. Tapi tidak pernah
terungkapkan. Memendam perasaan padanya itu ternyata menyesakkan. Bahkan dalam
obrolan yang sebenarnya hanya bercanda itu bisa melukaiku. Sulit bagiku untuk
menutupi apa yang aku rasakan saat itu. Saat ada kata-katanya yang melukaiku.
Sulit memang. Hal terbaik yang aku lakukan adalah, cepat-cepat pergi
meninggalkannya dan menangis sepuasnya. Aku memang cengeng. Tetapi pura pura
sok kuat. Iya. Dia sering nanya ke aku tentang cewek. Padahal pertanyaan itu
sangat melukaiku.
“Ini cewek menurut lo gimana? Cantik gak? Dia udah bilang
kalau dia suka sama gue”
woeee!! Lo tau nggak
sih yang lo ajak curhat itu siapa? ORANG YANG JUGA SAMA SAMA SUKA SAMA LO tapi
bedanya gue nggak berani ngungkapin apa yang gue rasa.
Aku rasa ini hati sudah meledak layaknya gunung meletus.
Ini akabitnya kalo punya perasaan pada orang dan dipendam. Ini akibatnya. Sakit
yang selalu di dapat. Nyesek tiap harinya. Pernah kepikiran untuk ngungkapin
perasaanku padanya. Takut. Tapi aku takut. Takut dibilang norak. Akupun sudah
tahu bakal bagaimana reaksi dari dia. Dia pasti tertawa dan bakal bilang KOK
BISA?
Aku terlalu takut untuk ngungkapin perasaanku padanya.
Aku nggak seberani cewek-cewek supeer yang suka padanya itu. Aku jelek, udik, nggak
punya temen, pendiem, nggak bisa bersosialisasi, bodoh, ingusan, norak dan nggak
stylish. Aku nggak ada apa-apanya dibanding cewek-cewek supeer yang suka
padanya. Mereka stylish, cantik, seksi, pintar dan tentunya punya banyak temen.
Ngomongin nggak punya temen. Iya, aku ingat kata kata dia. Dia pernah bilang kalau
aku nggak punya temen. Temenku hanya itu-itu aja. Cuma sedikit. Nggak bisa
berbaur. Haa haa haa haa sakit woiiii sakit woiii. Tapi emang iya sih. Enggak
juga kok. Kamunya aja yang nggak tahu. Aku bisa berbaur kok. Aku punya banyak
temen kok. Cuma aja temen-temenku sudah pada nikah. Punya anak. Keluarga. So,
mereka ngurusin keluarganya. Jarang ada waktu buat ketemu. Tapi kita masih
berhubungan dengan baik. Toh buat apa punya banyak temen kalo cuma fake apalagi
bisanya menusuk dari belakang. Nggak perlu punya temen banyak, sedikit saja
yang penting bisa mengerti dan menerima kita apa adanya. Itu yang aku harapkan.
Nggak salah juga punya banyak temen, buat nambah relasi hidup aja.
L L L L
”Lo berharap gue suka sama lo kan.“ Waaaaaaaaaahhh gila.
Ya iyalah. Sudah gila apa aku nggak ngarep gitu, kan aku suka sama kamu. JJJJJ
Dengan innocentnya dia bilang seperti itu. Itu tentang
sebuah status yang dia buat dan aku mengomentarinya.. Aku hanya mengomentari
sewajarnya saja dan dia bilang seperti itu. Sumpah, nerveous banget nggak tahu
harus bales gimana, rasanya tuh bad mood banget. Bad mood. Iya, kelihatannya
dia itu merendahkanku seakan aku itu nggak pantes menyukainya bahkan bisa
bersamanya. Sakit lagi hatiku. Bodoh amat aku bales
”Ge-er banget sih. Gue suka sama lo? Enggaklah, lo itu
bukan tipe gue. Gak tertarik gue sama lo. Hahaha JJJ.“ Balesku. Sebenarnya aku sudah menangis saat mengetik
kalimat itu. Aku terlalu
cengeng.
Pembodohan lagi, lagi dan lagi. Pembohongan pada hati. BOHONG.
BOHONG. BOHONG. BOHONG. BOHONG.
Apa
sih yang membuatku takut untuk ngungkapin perasaanku?? Aku takut. Aku malu.
Karena apa, aku merasa nggak pantes. Aku tahu tipe wanita idealnya. Aku nggak
cantik, pinter, aku juga nggak stylish, aku juga nggak bisa berbaur. Dan aku-pun
juga tahu kalau aku bukanlah tipe idealnya dia. Buat apa juga aku ngungkapin
perasaanku padanya. Nggak bakal ada efek apa-apa. Tetapi, bodohnya, aku masih
tetpa menyukainya. Aku masih menyayanginya.
I’ll
starting forget you. I don’t care if we’re friend. No, we are not friend. We
never talked. We just strange friend and can’t be friends. We can’t break the
ice.
Nangis
itu cara terakhir ketika nggak bisa mengungkapakan dengan kata-kata. Kadang
kita hanya ingin menangis, sendiri ditempat yg sejuk di sebuah padang rumput
dan menceritakan semuanya kepada angin yang semilir menyegarkan jiwa. Aku
menginginkan itu saat ini. Berpura pura “I am fine” pada semua orang itu susah.
Berpura pura tersenyum pada semua orang, pada suatu hal yang lucu padahal otak
dan hati tertuju pada satu orang. Satu masalah. Nggak gampang melakukan itu.
You must be strong human.
Aku
ingin dia melihatku. Aku ingin dia dekat denganku. Aku ingin dia
memperhatikanku. Aku ingin dia tahu bahwa aku menyukainya. Aku ingin dia
bersikap dewasa. Itu saja. Tapi sayang, semua hal yang aku harapkan itu hanya
sebuah pengharapan yang tidak mungkin terwujud. Amat sangat tidak mungkin
sekali terwujud. Aku tahu dia seperti apa. LL
Menyakitkan
itu adalah ketika muncul rasa rindu pada Septa. Aku ingin menghentikan itu tapi
I can’t stop that feeling. Rasa itu datang tidak diundang dan pergi tanpa disuruh
pergi. Layaknya jaelangkung!!@#
Saat
ini, aku ingin mendapatkan satu lelaki yang benar-benar menyayangiku,
menyukaiku apa adanya diriku ini dan yang terpenting. Aku juga menyayanginya
dan menyukainya. Aku lelah sendiri. Aku ingin merasakan punya pacar. Pergi
keluar at Saturday night. Hang out bareng pacar. Aku ingin merasakan itu.
Dilihat dari segi umur aku sudah terlalu tua untuk tetap menjomblo. Bukan tidak
mau membuka hati. Ada yang mendekati tapi aku nggak ada feeling sama mereka. Bukan
terlalu fokus sama seseorang yang aku sukai tapi memang belum ada yang cocok. Belum
ada yang nyaman. Banyak orang yang bilang kalau aku itu pemilih. JJ
iya mungkin. Tapi enggaklah. Ketika ada yang cocok dan nyaman buat apa ditolak JJJ
Septa juga pernah bilang seperti itu kepadaku. Aku nyaman dengannya. Apakah
Septa juga nyaman berada di dekatku?
Pernah
suatu kali ada yang menembakku. Ssstttt aku nggak mati loh. Ada seseorang yang
menyatakan perasaannya tapi aku tolak. Dia juga bilang kalau aku pemilih. Aku
hanya melihat dia dari segi fisik saja. Padahal bukan itu alasannya. Aku tidak
ada perasaan apa-apa kepadanya. Bisa saja aku menerimanya. Tapi, aku juga nggak
mau menyakiti perasaannya.
Enggak.
Aku bukan tipe orang seperti itu. Aku bukan
makhluk yang melihat lelaki dari segi fisik. Cinta itu tidak bisa ditebak.
Tidak ada yang pernah tahu perasaan seseorang. Semua itu berawal dari hati.
Kenyamanan.
Aku memang menyukai artis korea seperti Lee Donghae
member dari boyband ternama Super Junior. Tapi, bukan berarti tipe lelaki
idealku seperti itu. Nggak ada orang yang tipe ideal pasangannya jelek. Tapi
kita tidak boleh memilih berdasarakan fisik. Lee Donghae itu artis. Penyanyi.
Wajar saja dia tampan. Keren. Cool. Tapi belum tahu kalau di rumah. Kebiasaan
di luar jadwal manggung seperti apa. Kita tidak ada yang tahu. Tahu ding
ssssttt dari akun sosmed dia. Dia kan sering posting hee hee hee.
Memangnya siapa
diriku ini. Aku sadar diri kok. Aku hanya gadis udik. Jika aku mempunyai
pasangan ideal layaknya Lee Donghae. Aku nggak akan pernah menikah sebelum
menemukan yang seperti itu. Menikah? Punya cowok aja enggak. Mana aja cowok
yang wajahnya seperti Lee Donghae disini. Biarpun ada, dia juga tidak
melihatku. Dia juga tidak menyukaiku.
Yang terpenting itu adalah. Kesetiaan dan tanggung jawab.
Paling penting lagi adalah ”NYAMAN.” menurutku seperti itu. Aku menemukan itu di dalam diri Septa.
Septa. Contohnya Septa. Aku menyukai Septa yang notabene bukan artis ataupun
model. Bahkan dia juga tidak terkenal tapi aku tidak bisa memilikinya. Dia
tidak pernah melihatku. Peduli padaku. Apalagi Lee Donghae. Bisa
membayangkannya sendiri kan J
Aku masih belum mengerti perasaanku kepada Septa. Hanya
satu hal yang aku tahu. Aku merasa nyaman berada di dekatnya.
Hari ini otak dan perasaanku telah terkuras. Aku benar-benar
memikirkan kenapa Septa memblokir-ku. Apa mungkin dia benci kepadaku. Apa
salahku? Kemarin saja kita masih chat baik-baik. Bercandaan juga. Kenapa dia
tiba-tibal memblokirku?
Aku juga memikirkan masa lalu saat aku masih bersama
Septa. Saat kita duduk di bangku kuliah. Ada banyak hal yang membuatku geli.
Tertawa geli maksudku.
No comments:
Post a Comment