Seperti apa aku menyukainya? Seperti apa aku
menyayanginya? Seperti apa aku mengkhawatirkannya? Seperti apa aku peduli padanya? Seperti apa aku
merindukannya? Seperti apa perasaanku padanya? Sejumlah pertanyaan yang
berkecamuk di dalam hatiku untuk memastikan apakah aku benar-benar
menginginkannya. Aku nggak tahu jawaban dari semua pertanyaanku itu. Perasaan seseorang tidak seperti jawaban
matematika yang hanya memiliki satu jawaban. Aku selalu membenci diriku. Benci
akan segala hal dalam diriku ini. Mengapa aku bisa menyukainya?? Mengapa aku
bisa menyukai seseorang yang sama sekali tidak peduli denganku??
Apa aku harus pergi ke luar negeri dan hidup disana
supaya aku bisa melupakan Septa? Aku terlalu lelah akan perasaanku ini. Aku
lelah menunggu seseorang yang tidak pasti kedatangannya. Aku lelah untuk
merindukan seseorang yang tidak pernah merindukanku. Ya tuhan mengapa aku bisa
selemah ini? Ya tuhan, andai aku terlahir menjadi Xena.
Sekarang aku sedang menunggu chat dari seseorang.
Akhir-akhir ini aku sering Net-Surfing. Aku pikir itu cara terbaik untuk
melupakannya dan bersenang-senang di dunia maya.
Apakah ada pesan masuk di inbox ku ? aku melihatnya.
Mataku menatap liar layar handphone-ku. Ada. Yippiiiiiiiiii JJJ Mata ku terbelalak melihat pesan yang masuk di inboxku.
From : xxlastLove
I AM STILL LOVING YOU
What? Who
are you? Ada pesan masuk dan langsung bilang Love love and
love. Oh my gooshhh. Seterkenal itukah aku di dunia maya? Wajar kali ya, aku
pasang foto yang super duper cantik dan seksi. Iyalah, kombinasi antara kamera
B612 dan Camera360 plus photoshop yang sedang hitz di kalangan anak muda jaman
sekarang. Wait!!!! Camera B612, Camera360 plus Photoshop?? Waduh, maruk banget
yak.
Mataku
tertuju lagi pada satu pesan, masih sama xxlastLove. Siapa sih dia.
Penggemarku? Aaaaah aku sudah punya banyak penggemar di dunia maya. Sudah
cukup.
From
: xxlastLove
Lama
ya kita nggak ketemu. Gimana kabarmu? Aku harap sih baik. Masih suka sama
Septa? Aku tebak sih iya J
Buat apa suka sama seseorang yang gak peduli sama kamu? Apalagi kamu cuma
secret admirer dia. Dia juga gak tau
kalau kamu peduli sama dia. Kapan buka
hati buat aku? Udah lama aku nunggu kamu buka hati buat aku tapi kamu terlalu
fokus sama orang yang gak peduli sama kamu. Aku tau, emang gak gampang move on
apalagi masih menjalin hubungan baik sama orang yang kamu sayang. Tapi, apa
hatimu gak capek?
Hubungan baik? Menjalin hubungan baik dengan Septa? ID ku
aja sudah di blokir sama Septa. Mana yang dinamakan hubungan baik pertemanan? Bukan
teman. Aku menginginkan lebih dari itu. More than friend.
Aku menatap layar handphone. Kira-kira siapa ya ini??? Astaga,
jangan jangan. Tapi apa mungkin. Nickname dia xxlastLove. Siapa dia ? No
profile picture. Oh my gosshhh!!!!!!!!
Aku
membaca tulisan itu berpuluh-puluh kali. Tapi aku
masih lupa, siapa dia. Mungkinkah? Mungkinkah itu? Jangan jangan. Yang jelas
ini bukan dari Septa. Mana mungkin dia ngirimin kaya gini. Nggak ada
hubungannya.
L L L L
Kruuuuuuukkkk!!!!
Perutku bunyi. Itu adalah adanya tanda-tanda kelaparan di dalam sana. Aku pergi keluar cari makan. Bakso. Hemart. Hemat dan
smart. Tapi sayang pencernaan yang nggak smart. Maklum, namanya anak kos dan
belum gajian. Makan apa adanya yang penting makan, kenyang dan kuat. Kuat menghadapi
perasaan ke Septa.
Yippppiii.
I get my favorite food. Bakso. Malam
ini pengen banget makan bakso yang pedaaass banget. Paass
banget sama mood. Panas plus pedasss.
”Woee
cungkring, ternyata lo disini. Ngapain? Makan bakso?
Gue kira lo bakal gantung diri.”
April bener
bener pengen ditabok bakso. Dia sahabatku. Sahabat terbaik tapi nyebelin juga.
Sudah lama kita barengan. Kerjapun juga barengan. Nggak tahu kenapa dia
ngintilin aku terus. Dia tahu semuanya tentang masalah-masalahku. Termasuk
Septa. Aku nggak mau ada seseorang yang tahu kalau aku suka sama Septa. Aku nggak
mau kejadian seperti enam tahun yang lalu terulang.. Aku suka sama orang. Iya
temen sekelasku. Awalnya nggak ada yang tahu. Tapi aku kena gap lihatin dia.
Nah, temen sebangku ku liat. Sudah deh jadi omongan. Tapi sayangnya lagi, dia
(red:didin) suka sama cewek (red:melati) yang juga teman sekelasku. Si didin
nembak melati dan ditolak dan alasannya karena aku suka sama didin. Whuuuuuzzzz
langsung seisi kelas riweuh nggak setuju. Soalnya semua orang pada tahu kalau
melati juga suka sama didin. Astagaaa!!! Dewa neptunus ambil aku dari muka bumi
ini. Bawa aku ke lautan saja. Aku bener bener nangis. Seisi sekolah mencaci
maki aku dan si didin sama sekali nggak peduli sama sekali. He
didn’t care about me even I already told to him that I loved him. He’s so
stupid.
“Lo tu ya, gue gak cungkring. Gue
gembrot. Nih badan gue melar gara gara Septa ”
Andalanku
kalau sakit hati dan stress yaitu makan. Banyakin makan. Apalagi yang pedes. Spicy
food must be there when I get heartbrokenJJ.
“Iya,
sorry deh lyn. Aerilyn. Lagian lo
sih nangkring aja tiap hari. Mantengin laptop mulu. HP mulu. Chatting mulu.
Buat apa sih? Nunggu Septa? Kan lo udah di blocked sama dia? Masih ngarep dia
add lo lagi? Gak usah ngimpi lyn. Atau gue bilangin ke Septa buat add lo lagi. Gue
punya ID dia kok.” Kata April sambil membuka handphone.
Boleh. Boleh.
Boleh. Aku mau dia
add aku lagi. Tunggu. Enggak. Aku nggak mau. Aku langsung menyambar handphone
April dari tangannya. Aku menyembunyikan handphone April di kantongku. Aku melanjutkan
makanku. Aku sangat lapar.
April
nyrocos ngomong sesuatu yang pastinya gak bakal aku dengerin. Aku gak mau
dengerin komentarnya ataupun sarannya. Kadang dia terlalu bijak. Dia itu pantes dan cocok kalau bertingkah konyol, usil
dan nggak waras. Bener bener menghibur
hidupku so far. She looks like clown for me. Sorry
April for saying this about you J
”Lyn,
lo dengerin gue gak sih? Gue nyrocos
panjang kali lebar lo dengerin gak sih?”
”Iyaa, gue
dengerin. Sensitif banget sih lo.”
”Bukan
masalah sensitif Lyn, noh lihat, lo habis tiga mangkok bakso. Pasti lo gak
dengerin gue.”
Aku
tersenyum lebar ke April. Nggak sadar aku bisa habis tiga mangkok bakso. lapar
banget dan otakku terlalu terkuras oleh permasalahan hatiku yang nggak jelas
banget ujungnya. Asal kamu tahu pril, aku nggak baik-baik saja. Hatiku capek.
Otakku capek. Parahnya lagi aku nggak ngerti harus bagsimana. Banyak orang menyuruh
berhenti mengharapkannya. Tapi aku sudah berusaha dan belum berhasil. Nggak
ngerti sampai kapan seperti ini. Berharap, berharap dan berharap.
”Balik yuk.
Pengen cepet cepet tidur gue.” Kataku sambil ambil jajan.
”Oke.” jawab April. Dia pulang dulu meninggalkanku. Dia itu
penakut tapi kenapa malah aku ditinggal pulang sendiri?????
Sampai di
kamar aku langsung tidur. Aku capek dengan perasaanku sendiri. Aku capek dengan
semuanya. Aku bingung kenapa aku bisa seperti ini. Aku nggak ingin seperti ini.
Aku ingin move on. Aku ingin hatiku berhenti untuk mengharapkannya. Aku ingin
otakku berhenti untuk mengingatnya. Aku ingin mengembalikan waktu dimana aku
tak ingin melihatnnya. Aku ingin seperti itu. Berharap punya mesin waktu dan
mengembalikan waktu untuk merubah segalanya. Aku rasa malam ini tidurku tak
nyenyak dan esok pagiku tak lagi benderang. Secerah apapun mentari pagi tapi hati ku terasa begitu
suram.
”Lo udah tidur Lyn?” Tanya April
”Belum. Kenapa? Lo mau curhat? ” Aku sering menjadi
tong sampah April kalau dia lagi berantem dengan cowoknya. Aku suka ngasih
saran ke dia. Padahal aku juga belum punya cowok. Itulah keistimewaan jomblo. Belum
punya cowok tapi bisa memberi saran soal cinta ketika ada teman lagi curhat. Tapi
nggak pernah blow up masalahnya sendiri. Good job mblo. I am proud being
Jomblo. Oohhhh noooooo. Aku sama sekali nggak bangga. L
”Enggak. Gue
baik-baik aja smaa cowok gue. Lo baik baik
aja kan?”
April selalu tahu kalau aku lagi sedih. Aku rasa dia selalu tahu segala hal tentangku. Aku merasa
beruntung punya sahabat seperti April. Meski tuhan tidak mengirimkanku seorang
malaikat yang bisa melindungiku tapi aku rasa tuhan mengirimkan bidadarinya
untuk melindungiku setiap saat. Yaitu April.
”Iya. Lebih
dari baik-baik aja kok Pril.” kataku seolah aku baik baik saja
”Gue
tau kok. Lo itu gak bakal bisa move on. Gue gak
ngerti apa yang lo suka dari dia. Tampan? Enggak. Kaya? Enggak. Baik? Enggak.
Dewasa? Enggak Perhatian? Enggak. Peduli? Enggak. Apa sih yang lo suka dari
dia? Lo tu ya, seneng banget deh nyakitin perasaan lo sendiri. Gue
tau sih, gak gampang buat move on. Apalagi udah empat tahun. Dan empat tahun
itu lo cuma jadi secret admirer doang. Lo sadar gak sih kalo lo itu bodoh.
Lebih dari bodoh malah. Lo tau sendiri dia gak suka sama lo, lo bukan tipe
idealnya dia, sifat dia sama lo beda, lo juga tau banyak cewek yang suka sama
dia, lo juga tau dia punya pacar, pegangan tangan, hang out bareng, lo bilang
ke gue kalau hati lo gak sakit tahu semua itu. Itu karena lo pura-pura
mengacuhkan apa yang lo lihat. Apalagi sekarang lo lost contact. Gue tahu,
berpisah sebelum sempat bersama itu menyakitkan. Apalagi kaya lo, just as a
secret admirer and it already four years. Mungkin dia tau perasaan lo
sebenarnya tapi dia gak peka. Bukan gak
peka tapi karena ada hati orang lain yang dia jaga. Atau mungkin dia gak tau
cara ngomongnya takutnya ntar di bilang ge-er. Lo harus ngerti itu juga. ”
Tanpa terasa
air mataku mengalir deras. Entah apa yang aku rasa. Aku merasakan sakit. Lagi, lagi dan lagi hatiku merasa
sakit. April meluk aku sambil minta maaf.
”Gue ngerti.
Gue emang bodoh dan yang gue tahu setinggi apapun kriteria pasangan hidup lo,
bakal kalah sama orang yang telah membuat hatimu nyaman. Gue nyaman banget sama
dia, Pril. Gue nyaman banget ngobrol sama dia. Meski cuma chatting, gue nyaman
banget. Gue nyaman banget ada di dekat dia. Meski kriteria pasangan hidup gue
layaknya Chester Bennington tapi semua itu kalah sama kenyamanan. Apalagi,
tuhan juga gak mungkin nyiptain Chester Benningtin jilid 2 pril.” Kataku masih
terisak
”Lo tu ya,
udah nangis masih aja inget Chester. Masih aja berusaha lucu di depan
gue. ” Dia jawab sambil mengambil buku dan ditabok ke kepalaku. Emang si
April kelakuannya seperti laki.
”Kenapa sih lo masih bertahan ngarepin dia? Apa perlu gue
ngomong ke dia kalau lo suka sama dia? Gue juga punya ID dia. Lo add dia
aja.” Tanya April lagi
”Enggak
ah. Gue udah di blokir. Ya udahlah.
Mungkin dia menghindar dari gue. Jujur, gue
juga gak tau alasan dia blokir gue. Gue nyaman sama dia. Tapi, sekarang dia
udah pergi. Dan mungkin gak akan kembali. Gue berharap gue bisa lupain dia. Lo tau kan kenapa gue pengen ambil beasiswa ke swedia.
Tapi sama nyokap gak di izinin. Gue berharap gue bisa pergi jauh dari sini,
memulai hidup baru, kisah baru, pengalaman baru. Gue bener-bener pengen lupain
dia.” Kataku sambil tersenyum simpul
”Coba
deh lo hubungin dia dulu.” April memaksaku untuk add ID Septa.
”Apa kata lo? Udah gila apa gue. Enggak ah. Gue masih
bisa nahan perasaan gue. Harga diri woiiii.. harga diri… ” jawabku sambil
menarik selimut.
”Masa bodoh.
Yang penting lo bisa komunikasi dengan dia lagi kan” sambil cengengesan
ninggalin gue keluar kamar. Aku bisa meledak kalau terus terusan ngobrol dengan
April. Dia bisa membuatku tertawa, menangis danmarah. Nggak ngerti karakter
April itu seperti apa. April adalah sahabatku. The bestie never end.
L L L L
Paginya di
dapur....... aku bangun pagi pagi sekali hari ini. Aku terbangun karena aku
mimpi buruk soal Septa.
Masak buat
sarapan pagi ini..... untukku sendiri. Oopps lupa. April juga.
”Ping
ping ping ping.”
”Kenapa
gak bales message ku? Shock? Males? Ilfeel? Udah aku tebak kamu gak bakal bales. Lagi apa? Lagi
mikirin Septa ya? Ya udah lanjutin aja imajinasinya tapi jangan lupa balas
message ku ya J Oh ya, aku dapat nomer kamu dari April. Jangan marahin dia ya. Jangan berantem. “
Dia lagi. Pasti xxlastLove. Aku masih ingat kalau aku
tidak membalas pesan dari dia kemarin. Siapa sih. Bodoh amat aku bales dengan
singkat
“G. siapa?” jawabku ketus dan tanpa aku sadari kalau dia
bilang April
Dia nggak tau ya kalau sini lagi masak. Ganggu aja. Emang
kemarin lupa bales message dari dia. Terlalu sibuk menata hati. Terlalu sibuk
menangisi orang yang nggak akan pernah melihatku. Baru menekan tombol send
beberapa menit, xxlastLove membalas pesanku. Ya tuhan dia sedang online. Bodoh
amat, aku matiin kompor lanjut nangkring di teras.
”Yes,
finally you reply my message. Jutek
banget. Lagi apa sih? Masak? Masak apa? Kamu masak? Rasanya kaya gimana ya.
Inget dulu kamu masak mie instan aja rasanya gak karuan.”
Aku tertawa geli. Aku baru ingat. Dia adalah Johan. Kakak
kelas SMA ku dulu. Ceritanya, dulu aku pernah masak mie instan di kos temen dia
dan rasanya nggak enak. Dia dulu pernah suka sama aku tapi aku tolak.
”Johan ya? J sorry kemarin aku lupa bales message kamu. Gimana
kabarmu? Masih di New Zealand? Eh, ini di whatsapp ya. Kok bisa dapat nomer
ku?“ aku membalas pesan dari Johan dan aku add contact dia.
”Aku udah pulang kampung, Lyn. Yuk ketemuan. Udah lama
banget gak ketemu kamu. Gimana ya penampilan kamu? Apa masih culun kaya dulu ya?
Jadi penasaran. Meskipun penampilanmu sekarang masih culun tapi hatimu masih
baik kan. Bedanya kamu masih sayang sama Septa. Kamu tau gak sih Lyn,
perasaanku ke kamu masih sama seperti dulu. Gak baca pesanku yang awal ya,
makanya jangan jutek jadi orang. Aku dapat nomer kamu dari April. Kamu sering
gonta-ganti nomer, jadi susah ngehubungin kamu.” Balasnya.
Aku melihat pesan dia di awal, memang benar dia bilang
kalau dia dapat nomer ku dari April. Aku dulu pernah ngenalin mereka. Dasar si
April.
Aku termenung di teras. Kenapa dia bisa seperti itu?
Menyukaiku. Masih terngiang di telingaku kata kata temen sekolahku dulu
”Lo itu gak pantes sama Johan. Lo itu nggak ada apa
apanya. Lo itu cuma cewek culun yang nggak pantes ngedapetin Johan sang
pangeran sekolah.”
“Lo itu kalau suka sama orang lihat dulu orang yang lo
suka seperti apa. Orang yang lo suka itu care gak sama lo. Lo itu perusak
hubungan. Melati nggak nerima didin itu gara gara lo, padahal melati suka sama didin.
Melati jadi ngorbanin perasaannya.”
Tak terasa air mata ku jatuh perlahan. Aku rasa aku tak butuh
sumber air di mataku agar mataku kering. Akhir akhir ini aku sering menguras
air mataku. Aku bukan tipe orang yang merusak hubungan orang.
L L L L
Waktu SMA
dulu aku nggak kuper banget kok. Aku bisa bergaul kok. Aku juga punya teman. Ada
juga kok yang suka sama aku. Tapi sekalinya aku suka sama orang eeeeh jadi
bahan omongan satu sekolahan. Lucu ya hidup ini. Johan dulu suka sama aku.
Waktu itu seneng banget, siapa sih yang nggak seneng dideketin kakak kelas yang
super duper tampan dan jadi idola di sekolah. Tapi sayangnya, waktu itu aku
belum berani pacaran atau apalah itu.
Waktu Johan bilang kalau dia suka sama aku. Sumpah
kagetnya setengah mati. Kok bisa. Aku. Cewek jelek, berkulitan hitam, nggak
ngerti dandan, culun, belum pernah pacaran, bodoh, nggak terkenal di sekolahan,
pendiem pula dan di sukai Johan. Cowok yang notabene artis sekolah. Dunia ini
serasa berhenti berputar.
Iya, artis di
SMA ku. Dia pintar. Dia pernah terpilih untuk exchange ke Jepang. Dia kapten
tim basket sekolah dan menjuari beberapa perlombaan. Dia vokalis. Kurang apa
coba.
Setiap
pulang sekolah dia selalu jemput aku dikelas. Waktu istirahatpun dia maen ke
kelasku dan duduk di bangku sebelahku. Melted so much. Dia selalu nganterin aku
pulang sekolah sampai rumah. Padahal rumahku gak jauh dari sekolah. Aku
terbiasa jalan kaki.
Pernah
sewaktu istirahat Johan maen ke kelasku. Dia bawain
aku permen lollipop. Dia tau banget kalau aku suka itu. Lalu dia pergi. Sebelum
pergi dia menatapku lekat. Aku tak menghiraukan tatapannya. Aku terlalu senang
dia kasih permen lollipop apalagi gratis.
Banyak yang
bilang kalau Johan sayang banget sama aku tapi aku cuek. Aku berpikir mana
mungkin cowok se-per-t-i J-o-h-a-n suka sama aku?? Nggak menutup fakta juga,
banyak juga yang benci banget karena Johan lebih dekat sama aku. Pernah sewaktu
pulang sekolah dan waktu itu Johan lagi nggak masuk.. Aku dihadang oleh segerombolan
cewek yang tak lain dan tak bukan adalah teman seangkatan Johan. Mereka marah marah,
mencaci maki soal kedekatanku dengan Johan. Nggak Cuma kakak kelas tapi teman
seangkatanku juga iri.
Bruaaaaakkkkkk !!!!!
aku terjatuh dari kursi.
”Lyn, gimana
rasanya? Haha.. Nasi goreng lo gue abisin. Gue laper tadi. Tapi kok kayaknya
belum matang ya masakan lo.” Aku tersenyum geli. Ya iyalah kan aku tinggal
chatting sama Johan.
“Ahh perasaan lo aja kali. Eh, maksud gue mulut lo kali
pril. Itu tadi udah matang terus gue tinggal kesini.“
‚“Gila,
jangan jangan emang belum mateng. Lo baru masukin nasinya trus lo tinggal
kesini.”
”betul
sekali, selamat anda mendapatkan kupon makan di warung bu suminah.“ Jawabku
April
langsung pergi keluar pasang wajah manyun. Maaaf Pril, lagi in mood booster.
’’Ping ping
ping ping. AeriLyn. Are you there? Bingung jawabnya ya? Udah
gak usah dijawab. Aku udah tau jawabannya kok.” Johan lagi
Johan
tahu kalau aku suka sama Septa. Aku pernah curhat waktu itu dan itu udah lama
banget sampai lost cantact. and now, dia datang lagi dengan membawa sejuta
perasaan yang sama seperti dulu. Sedangkan aku, aku masih memiliki sejuta rasa
untuk Septa. Seseorang yang tidak pernah melihat keberadaanku.
“Enggak
bingung gue, ada temen gue datang dan bikin rusuh. Itu si April, Gue gak
bingung jawabnya kok Jo, cuma gue bingung. Orang kaya lo suka sama gue. Lo
waras gak sih? Lo inget kan waktu kita SMA?” Balasku cepat dan dalam satu
kedipan mata Johan sudah bales pesanku.
”Gue waras
Lyn. Dari dulu gue suka sama lo. Cuma gue kalah telak aja. Apalagi sekarang hati
lo udah penuh dengan Septa. Empat tahun lo suka sama Septa. Lo pasti nyaman banget sama dia ya. Lo gak jadian kan
sama dia. Gue udah tau semuanya dari April.” Jelas Johan. What!!! Gak pernah
gak usil emang tu anak. Mana mungkin aku jadian sama Septa. Hatiku aja masih
rancu.
April benar-benar ember banget ya!!!
Dia pake gue lo. Perubahan yang bagus. Kenapa nggak gini
aja ya. Lebih enak kan. Aku-Kamu. Manis sih. Aku ingin Septa seperti itu
”JJJ
Tapi gue udah move on ko Jo. Capek tau.
Menunggu tanpa ada kepastian. Gue juga gak berharap gue bisa jadian sama Septa.
Gue udah putusin gue bakal lupain dia.” jawabku. Lagi, lagi dan lagi aku
meneteskan air mata
”Gue
gak percaya kalau lo udah bener bener move on Lyn, lo itu bukan tipe cewek
seperti itu. Lo kalau
udah sayang sama orang, lo gak bakal nglepasin gitu aja. Lo bakal pertahanin.
Sekeras apapun usaha lo lupain dia lo gak bakal bisa sepenuhnya lupain dia. Lo
bakal butuh waktu yang lama. Setahun mungkin, atau mungkin lebih dari setahun.”
Aku
bales Johan dengan emoticon ketawa. Dan disitulah
chat kita berhenti. Aku sama
sekali nggak mengerti kenapa dia seperti itu. Tunggu, kalau dipikir-pikir umur
Johan berapa ya? Bukannya sudah tua? Aku nggak percaya kalau dia masih
menungguku. Jangan-jangan dia sudah menikah dan nggak bahagia dengan
pernikahannya. Terus, dia menginginkan perceraian. Maka dari itu dia mencariku
dan ingin melanjutkan cintanya yang tertunda.
Ooooppss!!!
Why I always think negative??? Please go away from my head. I don’t know. Mungkin
saja Johan ingin menjalin hubungan baik denganku. Tetapi kenapa masih ngomong
kalau perasaan dia masih sama seperti dulu. Fake!!
