Monday, 2 May 2016

THE SECRET OF ME PART 3


PART 3
When the first time I saw you
You made me fallin’ over you
How it would be?
I don’t know. I never know.

Could I give you feeling same as mine?
So, you could understand how my feeling is
Don’t walk away from me
Don’t take your way to leaved me alone

You don’t care with me
You take your way, when every pieces of my heart is fall
Yes, I was blind loving you
And now I see everything is gone

The memories of you made me fall asleep so long
I remind our past and it makes me freeze all the time
Every breath of me remind me of you
This roses are loses and never goin’ back

Everything is gone and never goin’ back
Everything is gone and never goin back
Break our memories
You break our old memories
You break our past
Your break my hope
L L J L
Hari ini aku bertemu dengan Johan dan kita keluar bareng cari angin. Seneng juga hari ini bisa hang out bareng dia lagi. Kita jalan jalan di taman. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
        “Mendung banget ya hari ini.” Johan mengeluarkan kata kata yang sontak membuyarkan lamunanku tentang Septa.
        Johan mulai percakapan diantara kita. Sedari tadi aku terdiam. Akhir akhir ini aku sering nggak fokus dengan orang-orang disekitarku. Septa. Lagi dan lagi Septa. Kenapa selalu kepikiran tentang Septa. Belum tentu juga dia mikirin aku disini. Dia sudah asyik dengan dunianya sendiri. Lagipula, siapa aku. Aku bukan siapa siapa dia. Mencoba untuk mengabaikan pikiran dan hatiku tentang Septa itu memang sulit.
        ”Iya. Bentar lagi hujan nih.” Jawabku. Aku masih canggung ngomong sama Johan. Kita sudah lama nggak ketemu semenjak dia nglanjutin sekolahnya ke New Zealand dan bekerja disana.
        ”Gak hujan kok, Cuma mendung aja. Lo tu yang bikin hujan.“ Kata Johan yang membuat air mataku sebentar lagi mengalir.
        ”Enggaklah. Gue gak bisa bikin hujan.“ Jawabku.
        ”Bisa. Mata lo itu bisa bikin hujan. Bukan lo sih tapi Septa yang bikin hujan di mata lo.” Jawab Johan tersenyum simpul.
        Astaga, kenapa dia membahas Septa lagi. Kapan aku bisa move on. Lagi lagi air mataku menetes. Entah kenapa air mataku selalu menetes ketika membicarakan Septa. Aku terlalu sakit hati tapi aku masih sayang. Aku tidak ingin melupakannya. Aku tidak ingin mengabaikannya. Faktanya, Septa mengabaikanku. Tanpa dia sadari hal yang dia lakukan padaku itu sangat melukai hatiku.
        ”Bisa aja lo becandain gue.” Jawabku tanpa menatapnya.
        ”Lo lagi nangis ya Lyn? Sorry gue bahas tentang Septa. Gue masih gak ngerti kenapa lo bisa sayang banget sama Septa. Mending lo ungkapin perasaan lo ke Septa deh Lyn.” Johan sambil memandangku tapi aku.
        ”Sorry !! Gue terlalu sensitif ya Jo? Gue nyaman sama dia. Gue gak bakal ngungkapin perasaan gue ke Septa Jo, karena gue udah tau reaksi dia bakal kaya gimana. Biarin gue disini menahan perasaan gue untuknya. Biarkan gue menyimpan rasa untuknya. Mungkin gue bakal berhenti menyayanginya ketika dia sudah menikah. Gila kan gue?” jelasku yang sambil mengusap air mataku yang tanpa aku sadari jatuh di pipiku
        Aku melihat Johan bengong mendengar kata kataku. Apa yang aku ucapkan tadi adalah apa yang sedang aku rasakan. Aku juga mengharapkan hal itu terjadi supaya aku benar-benar bisa melupakannya.
Sakit. Sangat menyakitkan sekaligus. Menusuk jantungku. Tapi, hal itu akan membuatku bisa melupakannya selamanya. Satu tusukan tajam yang aku terima. Mungkin itulah caranya untuk bisa melupakan Septa. Septa melakukan itu kepadaku. Iya. Harus Septa yang melakukan itu kepadaku. Agar aku bisa tahu seberapa jahatnya Septa kepadaku. Seberapa tidak pedulinya Septa kepadaku.
        ”Begitu ya. Selama itukah gue harus nunggu lo? Kapan Septa nikah? Gue harap secepatnya. Tapi gue gak bisa ngebayangin gimana perasaan lo lihat Septa nikah. Gue gak tega. Kenapa sih lo gak berhenti dari sekarang? Lo tau gak, kalo lo lihat Septa nikah dan itu bukan sama lo, lo pasti sakit hati banget. Lo bakal nangis sejadi jadinya. Teriak sekenceng kencengnya. Dan apa lo gak mikirin gue. Setelah Septa nikah lo bakal berhenti menyayanginya dan melupakannya. Lo dapat cowok lain. Terus nasib gue gimana? Gue udah jadi aki aki Lyn, gue udah expired. Lo tega giniin gue. Apa perlu gue jadi penasehat hidup lo aja?” Tanya Johan dengan wajah yang serius.
        Aku tersenyum mendengar penjelasan Johan. Lucu. Disatu sisi dia ingin memperjelas perasaannya. Dia ingin jawaban atas perasaannya. Disisi lain dia ingin menghiburku.
        “Lo jadi penasehat hidup gue aja, Jo.” jawabku sambil tersenyum lebar. Dalam sekejap hatiku tidak merasakan sakit lagi. Aku terhibur oleh kata-kata Johan.
        “Lyn, gue pengen lo jadi cewek gue. Gue pengen kita bisa hidup bersama.”
        Guuubraaakkk. Apa apaan ini. Jadi ceweknya Johan? Hidup bersama Johan? Berarti menikah dengan Johan? Jadi Teringat Septa. Dia pernah mengajak aku menikah. Tapi aku tolak. Dia pasti bercanda dengan ucapannya. Septa mengajakku menikah hanya lewat chat. Tapi disini, Johan, ada didepanku dan mengatakan itu. Aku harus jawab apa.  Jadi ceweknya Johan aja aku nggak bisa membayangkan kehidupanku kelak. Aku pasti dikejar cewek-cewek penggila mini dress. Apalagi hidup bersama dengan Johan. Aku pasti akan dihantui cewek-cewek penggila mini dress setiap hari.  Aku belum siap. Menikah dengan Septa saat inipun aku juga belum siap.
        ”Gue gak ngerti perasaan lo ke gue sebenernya. Lo bilang perasaan lo masih sama seperti dulu. Lo sayang banget sama gue. Gue kaget sama omongan lo barusan. Kelihatannya lo gak main-main sama ucapan lo. Tapi Jo, gue minta maaf. Gue gak bisa. Gue masih sayang sama Septa.” jelasku panjang lebar
        ”Gue udah tebak lo jawab gitu. Tapi gue pengen lo jadi cewek gue. Gue sayang banget sama lo.” Jawab Johan lagi.
        ”Emang lo pengen pacaran sama orang yang sama sekali gak sayang sama lo? Makan hati tau gak sih lo, Jo. Gue gak bisa pura-pura sayang sama orang. Gue gak bisa. Lo bakal sakit hati juga gara gara gue Jo. Selama ini. Selama empat tahun lebih ini gue gak pernah punya cowok. Dalam lubang hati gue udah ada yang ngisi. Septa. Gue belum bisa mengganti posisi Septa di lubang itu.”
        Gue melihat Johan tersenyum. Seyumannya bener bener manis. Tidak aku lihat rasa sakit hati di wajahnya atas jawabanku.
        ”Lo kok senyum sih Jo. Lo becandain gue ya?”
        ”Enggak. Gue gak pernah becandain lo. Gue serius atas apa yang gue ucapin tadi. Dan gue udah dapat jawaban yang bagi gue itu the best answer. Sampai kapanpun, gue bakal nunggu lo Lyn. Gue gak bisa maksa lo lupain Septa. Gue juga ogah usaha untuk lo bisa lupain Septa. Gue tahu lo udah dewasa. Lo udah bisa berpikir dewasa. Gue masih nunggu lo Lyn. Sampai kapanku.” Terang Johan
        Tuhan, ubahlah perasaanku. Jangan Septa tapi Johan saja tuhan. Andai aku bisa merubah perasaanku dari Septa ke Johan. Mungkin perasaanku nggak serumit ini.
        “Bisa aja lo. Yaudah, kalo lo betah nungguin gue. Tungguin aja sampe lo jadi aki-aki. Gue kasih saran ke lo aja ya. Jangan pernah menunggu sesuatu yang tidak pasti. Jalani hidup lo seperti apa yang telah hidup kasih ke lo. Gue gak mau jadi penghambat hidup lo. Ketika ada cewek yang sayang sama lo dan lo masih sayang sama gue. Itu artinya gue penghambat hidup lo.” Jawabku sambil cengengesan.
        “Haha, bisa aja lo Lyn. Dapat kata-kata darimana?” Sambil senyum yang menurutku itu senyuman termanis yang pernah aku lihat. Tapi sayang hatiku sama sekali tidak bergetar. Iya, tidak bergetar.
Hatiku hanya bergetar saat melihat Septa tersenyum ke arahku. Dan itu sudah terjadi beberapa tahun lalu. Aku lupa kapan terakhir kali dia tersenyum kepadaku. Menyedihkan.
I am just a secret admirer. Aku ingin Septa melihatku. Tapi aku tidak bisa membuatnya melihatku. Setiap usaha yang aku lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil. Make up? Nggak berhasil. Malah aku terlihat seperti badut. Aku nggak bisa berbaur. Ketika aku mencoba berbaur, aku merasa kalau aku diasingkan. Aku di cuekin. Aku benar-benar layaknya sampah. Ada banyak orang disekelilingku tapi tidak ada yang peduli denganku. Itu sama saja aku berdiri di ruangan hampa. Sendirian, Aku juga nggak PD akan diriku sendiri. Aku mencoba untuk merubahnya tapi yang aku dapat hanya pandangan yang mengerikan dari smeua orang. Tidak ada yang member saran atau mencaci maki. Hanya saja mereka melihatku dengan tatapan mengerikan. Aku benci akan tatapan itu,
I hate myself. I hate everything in me. Andai saja aku bisa berbaur mungkin aku bisa bersama Septa waktu itu dan berteman dengan teman-temannya. Mungkin saja aku bisa mengikuti style mereka. Cara dandan mereka. Cara berbicara mereka yang manis kepada semua orang.
Beberapa tahun terakhir ini aku berubah demi Septa. Dari segi fisik, aku rajin ke salon. Rambutku yang semula ikal aku smoothing dan Septa nangggapin kalau aku pantes dengan rambut lurus. Senang banget, seakan ada bunga bermekaran di dalam hatiku. Aku juga tampil lebih feminim dan ikutin gaya berpakaian orang korea yang notabene cute banget. Iyalah, mereka kan cantik. Aku juga usaha diet tapi selalu gagal. Gak apa apa ah yang penting udah ada niatan untuk usaha hehe!!
“Gue lihat lo berubah ya Lyn. Lebih feminim dan kelihatan lebih terawat.” Johan sambil nyengir ke arahku. Aku bengong melihat ekspresi dia. He telling the truth. Aku dulu norak dan tomboy. Enggak juga menurutku, hanya saja dulu belum tahu tentang fashion aja. Belum tahu make up. Kalau dulu yang penting pake bedak. Cukup. Udah. Ditambah lagi parfum. Pakai kaos, celana jeans dan converse. Udah cukup. Sambil bawa tas ransel. Jerawat nongol dimana mana, muka berminyak lagi, rambut dikuncir doang. Kalau sekarang beda. Arus globalisasi berlari semakin cepat. Sekarang tutorial make up banyak, online juga ada. Cara menjadi fashionable juga ada. Tinggal klik di keyword google udah nemuin banyak. Uang banyak. Buat beli barang-barang branded supaya terlihat stylish.
Emang iya sih, aku merasa, aku sedikit berbeda. Sedikit. Aku sering ke salon untuk perawatan. Perawatan badan dan rambut. Beli sepaket alat make up. Download tutorial make dari youtube. Langsung deh belajar sendiri. Beli kosmetik buat memutihkan kulit dan wajah. Aku pengen terlihat bersih layaknya artis korea yang bling bling. Udah putih, rambut panjang dan badannya langsing, seksi pula. Bikin geregetan kalau lihat drama korea. Beli aksesoris cewek. Bandana, japit rambut bla bla bla. Biar terlihat feminim.
Tapi usahaku itu sia sia juga. Septa tetap nggak pernah peduli dengan itu. Aku pengen kisah cintaku layaknya film A little Thing Called Love. Aku jadi P’Nam dan Septa jadi P’shone. Tapi sayang beribu sayang, movie never happend in life. Apalagi cuma kisah cintaku. Bukan sebuah kisah. Tapi sebuah perasaan yang rumit. Hampir sama dengan P’nam sebagian kisahku tapi sayang soal cinta nggak bakal sama dengannya. Not happy ending.
“Iyalah, gak mungkin kan gue tetep culun kaya dulu. Jaman udah berubah Jo. Temen juga. Temen juga mempengaruhi lo untuk berubah. Berubah lebih baik atau lebih buruk.” Sambil nyengir kearah Johan.
‘”Bisa aja lo. Balik yuk, ntar turun hujan tambah ribet, apalagi lo. Itu eyeliner bakal luntur.” Johan mengambil jaketnya dan menggandeng tanganku.
Johan, you must be my valentine. Tapi, saat ini hatiku masih tertuju pada Septa L. Andai aku bisa merubah perasaanku, mungkin aku bakal milih kamu Jo, tapi aku belum bisa melakukan itu. Biarkan aku tersakiti seperti ini. Tersakiti akan ulahku sendiri. Aku bisa bertahan. Aku masih mampu menahan perasaanku padanya.

L L L L
        Hatchiimmmm!!!!
        Hari ini aku flu. April membuatkan aku minuman entah apa itu namanya. Rasanya aneh. Masih pusing dan nggak bisa tidur. Semalam April jagain aku tidur. Aku terkena flu, bukan kehujanan tapi nggak kuat dingin. Norak kan. Cuma dinginnya hujan, apalagi dinginnya di Jepang. Dinginkah? Punya angan angan tinggal disana tapi apa mungkin? Bisa mati kedinginan aku disana.
        ”Lo baik baik aja kan Lyn? Cuma kena udara dingin hujan aja lo udah terserang flu. Lo masih berharap tinggal di jepang Lyn. Gue gak bisa ngebayangin. Mungkin lo membeku dan di pajang di museum. Orang pertama di dunia yang membeku.” kata April dengan cengenbgesan.
Gue cemberut mendengar April ngomong. Bisa-bisanya dia ngomong seperti gitu. Aku tabok kepala dia pakai majalah yang dia bawa. Awas aja, sampai aku bisa ke Jepang. Bakal aku buktiin kalau aku nggak bakal membeku seperti kata dia. Gambaroo Aerilyn!! Yooshhh!!!
”Gimana kemarin sama Johan? Dia sayang banget sama lo. Tapi lo masih aja nungguin Septa yang gak jelas itu.” lanjut April
”Iya, dia juga bilang gitu kemarin. Gak jelas gimana maksud lo?” jawabku
”Gimana mau jelas, lo aja gak tau kabar dia kaya gimana. Lo aja gak punya foto dia. Nomer dia aja gak punya. Lo juga gak tahu apa dia udah punya pacar atau belum. Lagi naksir orang atau enggak. Gue juga gak dapat info tentang Septa. Kayaknya dia sibuk banget dengan kerjaannya.“ Jelasnya.
One hundred percent you’re right April. Congratulation!!! Prok prok prok. Bener. Aku menunggu orang yang nggak jelas. Hatiku juga nggak jelas. Michin!! Nan babo. Bakaa. Stupid. Aku nggak tahu apakah dia punya cewek disana. Aku juga nggak tahu apa dia sedang naksir cewek disana. April salah, aku masih punya contact dia kok Pril. Ada kok nomer dia cuma nggak aku save aja. Ada nomer dia di group tapi nggak aku save as contact di hp ku. Cuma aku pandangi aja nomer dia. Aku juga punya kok facebook dia. Cuma nggak pernah aku chat aja. Aku juga punya kok foto dia. Foto bersama sama sih, yang penting dia ada di foto itu.
Nyengir ke April
“Lo kenapa nyengir kaya gitu?”
“Gue sih berharap dia masih jomblo. Semoga aja harapan gue terkabul.”
“Semoga aja Lyn.” Jawab April singkat.
Septa nggak mungkin jomblo Pril. Pasti banyak cewek yang naksir dia. Aku juga belum tahu benar tentang dia. Kamu tahu kan Pril, dulu aku jarang banget ngobrol sama Septa. Sekalinya ngobrol dia langsung pergi nyusul temen temen dia. Gini ya rasanya nggak punya teman sama sekali. Hatiku sakit lagi dan lagi. Pura pura tegar dihadapan orang lain itu nggak mudah. Butuh perjuangan. Perjuangan batin. Perjuangan muka supaya tetap tersenyum tottaly not fake smile.
“Lo pengen makan super burger gak Lyn? Lo kan lagi pura-pura tegar nih, lo juga lagi gak enak bedan. So, you need more energy to hide your feeling.” Ceplos April.
Aku nggak ngerti sama ni anak. Tahu aja dengan apa yang aku rasa. Apa mungkin di keturunan Mbah Mijan ya????????
”Tau aja lo. Gue gak mau makan yang kaya begitu. Gue pengen makan korean food.”
”Pergi aja sono sendiri. Gue mah ogah. Gue mau beli ketoprak aja. Murah. Bikin kenyang. Bikin Strong, bikin ndower pula.”
Dalam hal makananpun kita masih sering berdebat. Makan apa? Dimana? Mahal nggak? Enak nggak? Bawa minum sendiri aja. Air putih. Biar sehat. Bestie never end I think. I got the weirdest bff.
“Gue juga mau, pesenin satu bungkus dong. Pake uang lo dulu ntar gue ganti.” Sahutku
“Ntar lo ganti??”
“Enggak. Beneran gak bakal gue ganti.” sambil nyengir ke April
”Gue udah tau lo, pasti gitu jawabannya. Yaudah gue pergi dulu. Lo gak apa apa kan gue tinggal. Lo nonton dvd drama korea aja. Biar bisa nangis sepuasnya.” Celetuk April. Tanpa menonton drama korea yang sedih-sedih aku juga bisa menangis hanya dengan mengingat Septa. Tidak meingatnya tapi teringat tentang dia saja aku sudah menangis.
April langusng melesat keluar layaknya superhero. Saat ini aku nggak pengen makan apapun sebenarnya. Rasa rindu ke Septa semakin besar. Kapan bisa ketemu Septa lagi? Kapan bisa mengobrol dengannya lagi? Kapan bisa menatap matanya lagi? Kapan bisa bercanda dengan Septa ? Kapan, kapan dan kapan????.
Saat ini aku sudah lelah dengan semua perasaan yang aku punya. Aku capek. Aku sakit hati. Aku lelah menunggu seseorang yang sama sekali nggak peduli padaku. Iyalah, mana mungkin dia peduli. Dia nggak tau kalau aku sayang sama dia. Miriss!!!!
Aku memandangi HP ku. Tidak ada pesan masuk sama sekali. Sepiii. Ini HP apa bukan sih. Aku buka HP ku lagi dan ternyata ada pesan. Ada. Dari Mei, teman sekelasku dulu. Sudah lama banget aku nggak ngobrol sama dia. Mungkin dia sibuk juga. Padahal kita sama-sama konyol kalau sudah hangout bareng berempat. Aku, Mei, April dan Kansa pasti ada kejadian konyol yang terjadi.
 Kita dekat gara gara ada satu kegiatan di kampus dulu yang memaksakan kita jadi roommate. Awalnya aku bad mood banget satu kamar sama mereka karena mereka itu ngomongnya asal jeplak aja. Aku juga pernah sakit hati dengan omogan dari Kansa dan April waktu itu. Tapi setelah satu ruangan itu, ternyata dan ternyata sifat kita sama. Ternyata juga, aku kalau ngomong juga asal jeplak. Kita namain pertemanan kita Asus Fam’s. Ada ceritanya kenapa Asus. Bukan karena HP kita bermerk Asus tapi cowoknya April waktu itu salah ngomong dan yang kita berempat dengar itu Asus. Jadi bahan guyonan Asuuuusssusss suss suussss. Keluarga asus gitu sebutannya. Awalnya sih di grup suka rame tentang status ”selamat pagi keluarga Sonny ericson.” Pokoknya tentang merek HP. Nah dasar kita orang yang gila, jadi ikut-ikutan. Sebenernya bukan iri atau apa, lebih tepatnya menyindir. Dan sampai sekarang ada grup Asus Fam’s di whatsapp. Kita buat grup ini cuma kita berempat. Member cuma berempat dan ngomongin hal yang gak penting banget.

Mei. . . . . . . . . . type a message. . . . . .
”Lyn, lo udah dapat kabar belum, kalo Vina nikah tanggal 22 Agustus ini. Undangan lo gue yang bawa. Yuuk Asus fam’s datang bareng bareng, sekalian reunian.”
Pesan dari Mei membuatku shock. Vina? Menikah? Dia sahabatku tapi lama juga gak contact. Dia orang yang pendiem dan selama gue tahu dia nggak punya cowok. Kok bisa menikah? Menikah sama siapa?
Kenapa ya orang pendiem mesti gampang married dulu? Pendiem dan kelihatan gak punya cowok. Pacaran juga nggak pernah. Malah cepet menikah. Ada apa sebenarnya dengan mereka. Banyak dari teman temanku yang sudah menikah seperti itu. Orangnya pendiem.
Astaaagaaaa !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Ada apa dengan tragedi di dunia ini. Dunia yang tidak pernah ku mengerti skenarionya.
Pesan dari Mei belum aku bales. Aku masih shock mendengar kabar kalau Vina menikah. Masa Vina menikah? Beranikah dia? Menikah itu butuh komitmen yang besar. Ya tuhan, Vina menikah dan aku disini masih bergejolak dengan perasaanku sendiri.
Me.. typed a message..
“Sumpah lo Vina nikah. Jangan hoax lo.“
Balasku. Satu detik kemudian Mei bales pesanku. Mei mengirimkan aku sebuah foto. Dia foto undangan menikah Vina dan dikirimkan ke aku. Buat bukti otentik kalau vina menikah,
“Lo lihat nooooh undangan. Masih gak percaya lo? Lo merasa tersaingi kan. Haha gue juga ngerasa gitu. Gue yang pacaran lebih dari setahun belum dilamar. Lah dia pacaran baru 2 bulan aja udah dilamar.”
Haaaaaaahaaaaaaaaaa shock tingkat akut. Pacaran baru 2 bulan dan sekarang menikah. Iri sayaa hahaha
 Nikah. Menikah. Berumah tangga. Punya anak. Masih belum kepikiran saya. LLL
Jadi teringat Septa lagi. Omongan Johan lagi waktu itu. Tapi. Yang aku ingat jelas adalah obrolan dengan Septa waktu itu. Dia pernah chat aku ngajakin aku nikah. Iya. Nikah. Hidup dengan dia disana. Hidup bareng Septa. Melihat dia sukses dari nol. Punya anak. Punya keluarga kecil. Bahagia. Aaaaaaahhh apa sih. Dia cuma flirting kamu aja Lyn, Aerilyn. Buktinya aja kamu nggak dinikahi Septa kan. Iya lah, kan aku jawab ogah. Tapi apa mungkin kalau aku jawab iya Septa bakal nikahin aku???
Sejuta pertanyaan berputar putar di kepalaku. Di luar otakku. Belum bisa berpikir jernih lagi sampai April pulang gedor gedor pintu.
“Lyn, lo ngapain aja sih? Gue teriakin lo gak nyaut.” April ngomong sambil marah marah
“Mianhae eonni… Gue terlalu berimajinasi. Gue dapat kabar dari Mei kalau Vina nikah. Nah lo kenapa basah kuyup kaya gitu?” tanyaku
“Gue kecebur got. Gara gara gue ngehindarin anak kecil yang lari larian gak jelas. Vina nikah? Oooh gue udah tahu soal itu.” Terang April sambil manyuun.
Aku tertawa geli melihat dia manyun. Salah dia sendiri. Dia selalu naik sepeda ngebut banget. Apalagi kalau bawa mobil. Sudah deh aku turuns aja. Jalan kaki saja. Aku terlalu sayang sama nyawa.
”Nih, ketoprak lo. Gue beliin obat juga. Cepet lo makan. Gue mau mandi dulu.“
Aku masih cengengesan lihat April yang manyun ada beberapa meter.


L LLL
            Malam harinya aku merasa baikan dan selalu Net surfing. Pingg pingg ada pesan masuk Dari Johan.
        ”Lyn, gue mau berangkat ke NZ. Baik baik ya, sorry gue lupa ngabarin lo. Gak usah nyusul gue ya. Udah malem. Bye.“
        Johan. Kembali lagi ke NZ??? Secepat itukah?? Sendiri lagi disini. Dia masih sempet juga bercanda. Ngarep kali kaya iklan adaAqua.
Kayaknya malam ini aku bakal mantengin HP mulu. Dan ada pesan juga di grup tetangga. Grup kelas waktu kuliah dulu. Bodoh amat, aku baca aja chat di grup Asus fam's.
        ”Piing piing piing piiiiiing. Gengs gue bareng yak ke kondangan Vina. Besok kan ya undangannya?.”
        Kansa chat di grup Asus fam’s. Cepet banget aku bales.
Me    : ”Iya, besok. Janjian dimana kita?”
Mei   : ”Ditempat biasa kita ngumpul dulu aja. Deket kan noh sama rumahnya    Vina. Lyn, emang lo udah balik?
April  : Aerilyn gak balik, dia pakai jurus seribu bayangan.
Kansa : Oke. Besok ketemu ditempat biasa.
         Pril, lo balik kan?
April  : Iyee, gue balik. Masa temen sendiri nikah gue gak datang. Gue juga  pengen minta bunga biar gue cepet nikah juga
Mei   : Woiiii sadar, lo gak bakal dinikahin. Masih lama.
Kansa : Stoooppp. Aerilyn kemana gak bales. Pril, dia kemana? Lo jadiin dia umpan ikan piranha lo ya?
Mei   : Pril, lo besok berangkat barengan sama Aerilyn aja. Gue sama Kansa.
Ehh, Aerilyn kemana kok gak bales. Jangan jangan dia shock ditinggal nikah duluan sahabatnya hahaha JJ
April  : Dia lagi bertapa. Mensucikan jiwa.
Me    : Woeeee woeee kalian tu ya, gue tinggal sebentar aja chat udah banyak banget. Ngomongin gue yak??
         Eh gengs, gue gak shock ditinggal sahabat gue nikah. Gue cuman lemes doang. Kapan gue dilamar?
April  : Lo? Dilamar? Sama siapa?
Kansa : JJJ Lyn, cepet deh lo cari cowok. Dari kita berempat Cuma lo doang yang jomblo.
Mei   : Gak usah lo dengerin Lyn omongan mereka. Masukin ke hati aja.
Me    : Emang gila lo pada. Udah fix kan ya besok.
Mei   : Iya, fix. Jangan lupa charge hp lo pada. Besok kita foto-foto bareng.
Kansa : Gampang. Gue bakal bawa listrik sendiri.
April  : Gue bakal bawa tukang PLN.
Mei   : Gue bakal bawa tukang SPBU
        Hahaha begitulah kalau kita free time. Kita bisa chat bareng, ngobrol bareng. Sangat membuatku terhibur. Tingkah konyol mereka membuatku tertawa lepas setiap saat sekaligus malu juga.
        Dari mereka bertiga yang tahu soal Septa cuma April. Aku nggak berani bercerita ke mereka. Malu. Iya, malu. Sebenernya aku nggak mau cerita ke April waktu itu tapi dia tahu kalau aku lagi nangis dan dia nanyain kenapa. Lalu aku cerita ke April. Nggak semuanya aku ceritain ke dia.
        Aku dan April pergi merantau. Haha enggak juga sih, kita kerja ditempat yang sama. Mei dan Kansa tetep di homestay mereka. Nggak pengen pisah sama nyokap sebenernya. Kasihan nyokap. Tapi aku pengen cari pengalaman dan alasan utama adalah pengen bisa lupain S.E.P.T.A

L L L L
        Pagiku benar benar benderang!! Tidurku pun juga nyenyak. Pagi pagi nyokap udah nyiapain sarapan. Nyaman banget di rumah. Nggak pengen balik lagi ke kos. Nasib anak kos itu kalau belum gajian suram.
        Jadwal hari ini dirumah aja, nanti sore kondangan with the gengs. Ngomong ngomong soal kondangan. Apa mungkin Septa juga datang? Mungkinkah? Iya aja lah, buat pagiku semakin benderang.
        Sebenderang apakah hari ku? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku berharap aku bisa melihat Septa nanti. Mengobrol dengannya. Foto bareng Septa. Itu yang ada di otak ku. Sampai lupa kalau nyokap menyuruh aku pergi ke rumah nenek buat anterin kue.
        Septa. Septa dan Septa. Aku berharap kamu datang supaya aku bisa melihatmu. Menyapamu. Menatap matamu lekat. Dan bisa menghirup aroma parfummu. Apa aku terlalu berimajinasi? Berkhayal? Ah entahlah! Lupakan! Abaikan!   
Jam 2 soree...
Mei   : Piiing piiing pinggg
         Woiiii jam 2 nih, dah pada berangkat belom kalian?
April  : Gue masih dandan.
Kansa : Gue juga
Me    : Gue baru bangun tidur
Mei   : Cepetaaan Lyn bangun, lo tu kebiasaan.
April  : Lyn gak usah mandi
Kansa : Gak usah dandan juga Lyn
        Gara gara banyak berimajinasi jadi telat. Pasti mereka bertiga marah marah. Asataga ! Ada apa dengan aku ini.
Kansa : Gue udah di tempat
Mei   : Gue masih oteweh
April  : Gue nungguin Aerilyn dandan.
        Haha sorry gengs. Gue kalau dandan lama. Lama. Iya. lama milih baju, lama make up. Udah pake make up, hapuss lagi karena nggak PD haha.
        Finally I already done. April and I berangkat menuju tujuan. Di jalan aku masih kepikiran. Apakah Septa datang. Di chat group kelas dia nggak nongol. Jangan jangan dia nggak datang. Mendung lagi di hatiku. Hujan lagi di mataku. Harapanku sirna. Serasa bunga mawar yang semula beterbangan di hatiku mulai layu dan jatuh secara keras di relung hatiku yang kosong. Tak kurasakan apapun.
        “Lo lama banget sih pril. Lo juga Lyn, gue bisa pingsan nunggu lo disini.” Cerocos Kansa
        Mei Cuma ketawa geli. Kita sudah lama banget nggak ketemu. Cuma chatting aja. Itu sebagai obat rindu. Video call pula.
”Sorry, gue tadi ketiduran. Sumpah deh, gue gak bohong.” Jelasku
”Udahlah, kita berangkat sekarang. Noh udah rame banget. Eh lo kok pake celana jeans sih Lyn? Lo juga Pril. Lo juga Sa.” Mei adalah penengah kalau aku, kansa dan april udah ribet dan nyerocos nggak bakal ada ujungnya. Dia dewasa dan bisa handle apapun.
“Emangnya lo gak pake jeans juga ya, Mei?” Sahut Kansa
Mei ketawa terbahak bahak. Padahal sebelum berangkat kita sempet lihat postingan teman-teman kita yang udah datang dulu dan took of picture with Vina, mereka pakai dress. Nah kita sepakat buat pakai dress tapi pada kenyataanya kita pakai jeans tanpa janji. Astaga!! Apa apaan ini. Kita berempat ketawa geli dan langsung masuk keperhelatan akbar cieeeeeeeeeee kaya apa aja. Masuk ke acara pernikahan Vina. Masudku J
Kita duduk berempat. Sebelum itu kita peluk kangen dulu sama temen-temen. Langsung foto bareng Vina. Vina Begitu cantik. Ini acara pernikahan sekaligus reunion. Seruu!!! Ada mantannya Septa. Dia terlihat cantik banget dengan dress pendek dan heels yang dia pake. Sementara aku pakai celana jeans, atasan batik dan pakai heels lima sentimeter dengan rambut yang aku wave. Begitu cantik aku. Hiiiiiiiiiiiiii PD banget saya JJJ
Aku celingak celinguk cari Septa. Tapi nggak ketemu juga. Apa dia nggak datang? Kenapa dia nggak datang? Dia jugang gak respon chat di grup soal datang ke acara kondangan Vina. Kenapa? Ada apa dengan Septa?
“Lo kenapa sih celingak celinguk. Nih ada makanan enak enak.” Celetuk Kansa
Kita berempat emang suka makan banget. Apalagi yang spicy food, sea food and western food. Apapun kita makan. Jadi wajar aja, ini dijadiin culinary time for Asus fam’s.
Naaaaahh I got him. I got him. Finally, aku menemukan Septa. Dia datang ke acara nikahnya Vina. Oh my gosshh!!! Hatiku rasanya berdebar debar. Sudah lama aku nggak melihat dia. Dia begitu perfect dengan outfit yang dia pakai. Dengan rambut yang ditata rapi. Melted so much to see ya Septa. My future husband.
Aku tertegun melihatnya. Aku begitu merindukannya. Benar-benar merindukannya. Semoga apa yang aku imajinasikan tadi malam terjadi saat ini. Hari ini. Detik ini. Menit ini. Make a wish. Wish. Wish. Make a wish right now!!
“Lo lihat Septa ya?” tanya April
“Shhhtttt. Lo jangan keras keras ngomongnya. Gue malu kalo Mei sama Kansa tau soal ini. Jangan dibocorin ke mereka. Jaga mulut lo Pril.” Aku memarahin April. Kadang dia nggak bisa mengunci rahasia. Nyebelin banget dia itu emang
“Lo masih gak percaya sama gue. Gue tau lo menderita banget. Gue gak bakal sejahat itu Lyn sama lo. Apalagi disini banyak orang. Temen-temen kita lagi.”
Aku pengen banget meluk April. Aku pengen banget nangis tapi aku nggak mau make up ku luntur karena air mataku mengalir. Aku juga nggak mau orang-orang tahu aku nangis dan yang terpenting adalah aku nggak mau terlihat jelek dihadapan SEPTA. Sudah beberapa bulan aku nggak ketemu dia. Aku nggak mau terlihat buruk .
”Lyn, apa yang bakal lo lakuin? Cuma lihat dia doang? Apa perlu gue sampein kalo lo punya perasaan sama dia?” Aku jitak kepala April. Berani beraninya mau bilang ke Septa kalau aku punya rasa ke dia. Emang iya sih. Aku mulai berperasangka buruk pada April kali ini.
        ”Septa!!!” Teriak April. Astaga ni anak ngapain manggil Septa. Nyuruh dia kesini lagi. Duduk disebelahku lagi. Astaga. Sumpah, jantungku berasa mau copot ini.
        ”Gimana kabar lo? Lama ya gak ketemu lo.” tanya mei ke Septa. Aku juga gak mau diem aja.
”Iya, gimana kabar lo. Kelihatannya lo sibuk banget ya.“
”Iya. Sedikit sibuk.“ Jawab Septa
Sumpah. Aku nervous banget deket dia. Aku bisa mencium aroma parfumnya. Kali ini aromanya berbeda seperti waktu itu. Mungkin dia sudah mengganti merk parfumnya. Aku terdiam sambil makan makanan yang ada dihadapanku dan mengacuhkan Septa, April, Mei dan Kansa ngobrol. Aku nggak ngerti harus ngomong apa. Aku merasa bahagia bisa melihat Septa lagi, aku merasa senang bisa berada di dekatnya lagi. Iya, di dekatnya, hanya du-du-k di-de-kat- S-E-P-T-A.
Tanpa aku sadari mereka berempat menatapku yang sedang makan. Sumpah, aku makan lahap banget. Setelah bangun tadi belum makan karena dikejar waktu haha. Sekarang aku lapar.
“Lyn, lo lapar ya? Gak apa apa lyn, abisin aja mumpung gak ada orang disini.” Kata Kansa. Mei dan April tertawa.
“Lo, tadi belum makan Lyn?” Tanya Septa
”Belum. Gue tadi baru bangun trus April datang ke rumah gue.” jawabku
Septa melihatku sambil tersenyum. Ya tuhan, tolong hentikan waktu. Aku ingin melihat dia seperti ini. Aku juga ingin menceritakan apa yang ada diisi hatiku saat ini padanya. Dia begitu manis. Dia begitu imut. Cowok ter manis yang pernah aku lihat. Dibalik dia yang manis, wajah dia juga baby face. Dia metal banget. Lagu lagu kesukaannya metal banget. Dia suka banget sama Michael Jagmin vokalis A Skylite Drive itu. Dia juga suka BMTH. Pernah dia kasih aku lihat facebook temen dia, karena temen dia upload video mereka waktu nyanyi dan Septa jadi vokalis. Screaming loudly. I don’t understand the meaning actually J Btw, What the song is you actually sing atm?????
Dengan santainya aku lanjutin makan. aku ngak peduli Septa nglihatin aku. Jujur, aku peduli banget. Amat sangat peduli banget. Andai saja aku bisa menatapnya dengan bebas. Andai hanya kita berdua. Andai, andai dan andai. Dan sampai aku melihat lagi dia masih menatapku.
”Lo, ngapain lihatin gue? Aneh ya? Rakus ya? Maklum gue laper Ta, gue belum makan.“ Kataku sambil mengunyah makananku dan menatapnya. Aku berusaha bersikap biasa saja seperti yang dia tahu tentang aku seperti dulu.
”Lyn, lo udah punya cowok belum?“ tanya Septa yang bikin jantung gue copot. Nah, apa hubungannya. Dia kan nggak nembak aku. Aku sudah ngebayangin yang jauuuh yang tidak mungkin terjadi. Aku berharap dia nanya seperti itu dan dia bakal bilang I LOVE YOU. Septa sering menanyaiku tentang ini dari dulu.
“Belum. Gue masih single” jawabku
“Masa sih? Gak ada sama sekali? Jangan bohong lo. Yang suka sama lo?”
”Iya, gue jomblo. Gue gak punya cowok. Yang suka sama gue? Gak ada. Iya, gak ada. Eh, gak tahu ding Ta, ha ha ha”
”Gimana sih lo, orang yang lo suka ada gak?” Pertanyaan Septa bikin aku geram. Pengen banget bilang KAMU. IYA, AKU SUKA SAMA KAMU.
”Uuuuumm, gak ada. Hati gue hampa Ta. ” jawabku sambil tersenyum lebar
”Oooooohhh gitu ya!!!”
Eeeeehh !!! gitu doang ”Ooh” you tottaly make me fallin over from sky. Aku pikir kamu bakal bilang I love you Aerilyn. Aku mengharapkan kamu bilang begitu Ta. Haruskah aku yang bilang seperti itu? Energy belum full. Aku belum punya keberanian untuk mengatakan itu.

No comments:

Post a Comment